Archive

Archive for the ‘astro’ Category

Efek Coriolis: Bukti Bumi Berputar

December 16th, 2006


Jaman sekarang ini masih ada orang yang menganggap bahwa bumi ini diam. Atau lebih parah lagi: Bumi ini datar. Bagaimana membuktikan bahwa bumi ini berputar pada porosnya ? kenyataan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya terbit dan terbenam setiap harinya tampaknya tidak cukup membuktikan bahwa bumilah yang berputar (bukan sebaliknya: matahari mengelilingi bumi).

Bukti harusnya dapat diperoleh berdasarkan hasil pengamatan. Jika benar bumi berputar, pastilah ada efek atau fenomena alam sebagai hasil dari pergerakannya. Karena bumi yang berputar bukti itu harus dicari di bumi, bukan di Matahari atau benda luar angkasa lain. Ada bukti seperti ini. salah satunya “Efek Coriolis“.

Efek Coriolis melekat pada fenomena defleksi (pembelokan arah) gerak sebuah benda pada sebuah kerangka acuan yang berputar, khususnya di permukaan Bumi. Diambil dari nama seorang ilmuwan prancis: Gaspard Gustave Coriolis (1792). Pada intinya, sebuah benda yang bergerak lurus dalam kerangka yang berputar, akan terlihat berbelok oleh pengamat yang diam di dalam kerangka tersebut. Perhatikan gambar di sebelah. Titik hitam bergerak lurus dan titik merah diam di dalam kerangka berputar. Titik merah akan melihat titik hitam bergerak dengan lintasan melengkung.

Dalam pelajaran Geografi disekolah pasti kita pernah dikenalkan dengan Hukum Boys Ballot yang kurang lebih mengatakan “Angin cyclon di belahan bumi utara akan berputar berlawanan arah jarum jam, namun sebaliknya berputar searah jarum jam di belahan bumi selatan”. Mengapa? karena gerakan angin (relatif terhadap permukaan bumi) di belokkan oleh efek dari rotasi bumi. Sama seperti pada gambar diatas. Inilah yang disebut dengan gaya Coriolis. Semakin ke arah khatulistiwa, gaya coriolis makin mengecil. Itulah sebabnya angin cyclon hampir tidak pernah terjadi di wilayah khatulistiwa.

Gaya coriolis juga dapat di perlihatkan melalui experimen. Yang terkenal adalah yang disebut dengan Pendulum Foucault. Gantunglah sebuah pendulum dan ayunkan secara terus menerus. Apa yang terjadi? Arah ayun bandul tersebut lama kelamaan tidak lagi pada arah yang sama, tapi bergeser ke arah lain. Setelah satu hari atau lebih (tergantung lokasi bandul) arah ayun bandul akan kembali pada posisi awal, seakan-akan bandul diputar oleh gaya misterius. Mengapa bisa begitu? efek coriolis.

Efek coriolis diterima luas sebagai fakta ilmiah yang tak terbantah dan ini adalah bukti yang sangat akurat (karena dapat diukur dan dibuktikan, baik secara fisik maupun matematis) bahwa bumi sesungguhnya berputar pada sumbunya. Untuk lebih teliti lagi, terdapat tiga komponen gerak bumi pada kerangka insersialnya: Gerak Rotasi, Gerak Presesi dan Gerak Nutasi. Ini belum termasuk gerak revolusi (mengelilingi matahari) dan bersama-sama matahari bergerak mengelilingi pusat galaksi Bimasakti, dan seterusnya.

Sains, astro

Welcome, Eris

September 16th, 2006

Setelah “gagal” menjadi planet ke-10, 2003UB313 kini mendapat nama resmi: Eris. Sebelumnya doi dinamai Xena oleh penemunya. Memang nama Xena bukanlah nama resmi karena yang berhak menamai Objek astronomi adalah IAU. Umumnya objek serupa planet-planet dinamai dengan nama dewa-dewi dalam mitologi Yunani dan Romawi. Sebelum resmi diberi nama, ada beberapa nama lain yang diusulkan untuk 2003UB313 ini diantaranya “Persephone” dan “Lila”

Sesuai dengan definisi planet yang baru, Eris di golongkan sebagai Planet kerdil. Diantara semua Planet kerdil yang telah ditemukan, Eris adalah yang terbesar, bahkan lebih besar dari Pluto (yang dulunya planet ke sembilan). Saat ini telah ditemukan lebih dari 50 buah Planet kerdil yang mengelilingi Matahari kita.

Nama Eris diresmikan tanggal 13 Sebtember 2006, diambil dari nama dewi Eris dalam mitologi Yunani. Dewi Eris adalah personifikasi dari “Perselisihan”, mengingatkan orang-orang bahwa dengan ditemukannya objek ini para ahli berselisih tentang definisi Planet.

Dengan demikian nama Xena untuk 2003UB313 secara resmi dicoret. Welcome aboard Eris!

Sains, astro

Hisab Ramadhan – Syawal 1427H

September 5th, 2006

Tidak terasa sudah masuk bula Sya’ban. sebentar lagi Bulan Ramadhan akan Tiba.

Seperti biasa, menjelang ramadhan saya mencoba melakukan hisab dengan teknik yang sederhana. Teknik ini seharusnya bisa dilakukan oleh siapapun.

Sebelum melakukan hisab, ada baiknya kita memeriksa kapan terjadinya Konjungsi atau Ijtimak. Konjungsi adalah saat dimana matahari “menyalip” (mendahului) Bulan. Sebelum ijtimak, matahari ada di belakang bulan, namun setelah ijtimak matahari ada di didepan bulan. Cukup penting untuk mengetahui kapan terjadinya ijtimak, karena kalau terjadinya setelah maghrib, artinya bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Tidak mungkin tampak hilal. Sebaliknya jika Ijtimak terjadi sebelum maghrib, bisa jadi (tapi bisa juga tidak) akan terlihat hilal karena matahari lebih dahulu terbenam dari pada bulan.

Perlu juga diketahui bahwa semakin ke barat, semakin Jelas Hilal akan terlihat. Jika Indonesia Timur Hilal terlihat, sudah pasti Indonesia Barat Hilal juga terlihat, namun belum tentu terjadi sebaliknya, Bisa jadi Indonsia timur Hilal tidak telihat, namun Indonesia Barat sudah terlihat. Hal ini terjadi karena semakin kearah barat, semakin terlambat matahari terbenam. Karenanya semakin kearah barat, semakin panjang waktu antara terjadinya konjungsi dengan terbenamnya matahari. Hal ini berdampak hilal semakin tinggi terlihat pada saat maghrib.

Mengingat Arab Saudi berada di sebelah barat Indonesia hal yang sama bisa juga terjadi. Jika di Indonesia Hilal terlihat, sudah pasti di Arab Saudi juga, namun belum tentu sebaliknya. Bisa jadi di Indonesia hilal belum terlihat, namun di Arab saudi (dimana maghrib terjadi 4 jam setelah Jakarta) Hilal terlihat. Oleh karena itu sering terjadi Ramadhan/Syawal datang lebih awal di Arab Saudi daripada di Indonesia.

Oke, mari kita lihat.

Berdasarkan kalender bulan dari NASA, ijtimak atau konjungsi bulan akan terjadi :
Ramadhan –> Tanggal 22-09-2006: 11:45 UTC (18:45 WIB)
Syawal ——> Tanggal 22-10-2006: 05:14 UTC (12:14 WIB)

Dari Hasil tersebut terlihat bahwa akhir Ijtimak terjadi pada tanggal 22 september setelah matahari terbenam! (juga berlaku untuk Indonesia tengah dan timur) Bisa dipastikan bahwa hilal tidak mungkin terlihat karena bulan telah terbenam sebelum matahari. Oleh karena itu awal ramadhan dipastikan akan jatuh keesokan lusa yaitu pada tanggal 24 september.

Semetara Ijtimak untuk bulan syawal terjadi pada tanggal 22 Oktober 2006 pada pukul 12.14 WIB. Umur bulan pada saat terbenam kurang lebih lima setengah jam.
Umur bulan yang kurang dari 6 jam biasanya belum cukup umur untuk tampil sebagai hilal, walaupun faktanya pada saat matahari terbenam bulan berada diatas ufuk. untuk itu mari kita chek dengan menggunakan software mooncalc. Hasilnya untuk kota Jakarta adalah sebagai berikut:

Syawal

Hasilnya, ketinggian hilal (di Jakarta) diperkirakan hanya sebesar 0.4 derajat dengan jarak waktu antara terbenam matahari dan terbenam bulan hanya 3 menit 15 detik. kalau ditinjau dari sudut pandang astronomi, ketinggian hilal sebesar ini terlalu tipis untuk bisa dilihat dengan mata telanjang (rata-rata hilal dapat terlihat jika ketinggiannya minimal 5 derajat). Juga kalau ditinjau dari standar departemen agama yang tidak pernah menetapkan Awal bulan jika ketinggian Hilal kurang dari dua derajat, tampaknya kemungkinan besar satu syawal akan jatuh pada Keesokan Lusanya, yaitu tanggal 24 Oktober 2006. Penampakan Hilal di Wilayah Indonesia Timur dipastikan lebih rendah, dan untuk wilayah Ujung barat Indonesia, akan lebih tinggi, namun tidak akan lebih dari dua derajat (silahkan chek). Walau demikian, bisa jadi akan ada sebagian masyarakat yang akan merayakan hari idul fitri pada tanggal 23 Oktober, karena (biasanya seh) ada yang melaporkan penampakan hilal walau secara ilmiah mustahil. Polemik tentang hilal sudah pernah saya tulis di sini.

Secara syar’i penentuan Awal Ramadhan/Syawal adalah berdasarkan Rukyah (penglihatan) bukan berdasarkan Hisab (perhitungan). Saya menduga sebagaimana pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun ini akan ada sedikit “keributan” untuk masalah penetapan akhir ramadhan. Jika benar hendaknya perbedaan yang ada, tidak menjadikan perpecahan diantara umat islam.

Selamat menunaikan Ibadah di bulan Ramadhan.

Posting berkaitan:
Hisab Ramadhan/Syawal 1426H #1
Hisab Ramadhan/Syawal 1426H #2

Islam, astro

Pluto Turun Pangkat

August 25th, 2006

PlanetAkhirnya setelah melalui voting yang konon cukup “dramatis” akhirnya status Pluto dipastikan. Pluto bukanlah Planet. Keputusan ini mungkin mencengangkan banyak orang, terutama ketika membayangkan “efek samping” dari keputusan ini: Semua buku pelajaran yang berhubungan dengan planet, ensiklopedia, software astronomy dan sebagainya harus di perbaiki.

Sisi positif dari keputusan ini adalah akhirnya definisi planet menjadi lebih jelas. Sebelum ini tidak ada definisi yang pasti apa syarat-syarat sebuah benda disebut dengan planet? Berdasarkan sejarah astronomi, Planet adalah benda langit kedudukannya yang berpindah-pindah diantara bintang-bintang (Jika di lihat dari Bumi). Makanya disebut Planet yang artinya “pengembara”. Berdasarkan definisi ini matahari dan bulan adalah Planet(!) Plus lima lainnya: merkurius, venus, mars, Yupiter dan Saturnus. Ada tujuh buah planet yang didefinisikan pada masa lalu. Bumi dianggap bukan planet dan sisanya (neptunus dan Uranus) belum ditemukan. Seiring dengan berkembangnya pengetahuan di bidang astronomy, akhirnya diketahui semua planet diatas (kecuali Bulan dan matahari) beredar mengelilingi Matahari. Akhirnya matahari dan bulan di “lengserkan” dari jajaran planet. Semua planet yang tersisa mempunyai kesamaan: beredar mengelilingi matahari. Apa semua yang mengelilingi matahari disebut Planet? tidak juga, ada asteroid, komet yang juga mengelilingi matahari namun tidak disebut planet. Istilah planet hanya bermakna historis dari planet-planet yang telah ditemukan.

Dan pluto menjadi korban. Ketika ditemukan, orang-orang menganggap bahwa pluto sama seperti “planet yang lain”, namun beberapa tahun terakhir ditemukan pluto-pluto lain, sebagian berukuran mendekati bahkan melebihi ukuran pluto. Perdebatan mengenai status benda-benda ini berakibat dipertanyakannya status pluto hingga akhirnya diambil keputusan pada 25 Agustus lalu.

Satu hal lain, mungkin agak menggelikan tapi pasti banyak ditanya oleh orang awam atau anak-anak: “kalau Pluto bukan planet, lalu apa?” IAU mendefiniskan sebuah istilah baru yaitu “Planet kerdil” (dwarf planet). Istilah ini juga kudu disosialisasikan dalam ranah ilmu pengetahuan.

Walau bagaimanapun Pluto “pernah” menjadi planet dan ini adalah kenyataan sejarah. Masalah revisi-merevisi sudah biasa di dunia nyata (terutama bidang IT) heheh..

Referensi:
IAU Website

Posting berkaitan:
Planet ke-10
Planet ke-12

Sains, astro

Planet ke-12

August 16th, 2006

Tampaknya jumlah planet dalam tatasurya kita akan bertambah. Saat ini hanya dikenal sembilan buah planet: Merkurius, venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus Uranus, Neptunus dan Pluto. Namun para ilmuwan yang tergabung dalam IAU (International Astronomical Union) merencanakan akan menambah tiga buah “planet baru” yaitu Ceres, Charon dan Xena (UB313). Tiga objek ini bukanlah pendatang baru. Ceres selama ini dikenal sebagai sebuah asteroid (dan merupakan yang terbesar). Charon sebenarnya adalah satelit Pluto. Ilmuwan cenderung memandang Pluto-Charon sebagai system planet ganda, dibanding sebagai planet-bulan. Xena atau UB313 baru ditemukan sekitar dua tahun lalu. Diklasifikasikan sebagai salah satu objek TNO (Trans Neptunian Object) dan dipercaya berukuran lebih besar dari Pluto.

Selamat Jadi planet yaa? Makan-makan… :)

Sumber:
Solar system to welcome three new planets

Posting berkaitan:
Planet ke Sepuluh

Sains, astro

Sensitifnya Arah Kiblat

August 3rd, 2006

kiblat
Menarik membaca artikel republika yang berjudul Sensitifnya Arah Kiblat. Artikel tersebut menceritakan persoalan arah kiblat yang terukur melalui kompas yang ternyata berbeda-beda antara mesjid satu dengan lainnya, setidaknya ada tiga pilihan, 9, 8.5 atau 7.5. Mungkin kebanyakan mesjid yang didirikan di indonesia mengukur arah kiblat berdasarkan arah yang ditunjukkan kompas. Saya sendiri boleh dibilang tidak pernah menggunakan kompas untuk menentukan arah kiblat, jadi tidak paham maksud dari angka-angka diatas.

Mengutip dari artikel tersebut:

Jamaah ini seorang insinyur, yang setahun ini relatif setia shalat di masjid. Tetapi kemudian ia menemukan satu peta dunia dengan judul US/UK World Magnetic Chart -Rpoch 2000 Declination- Main Field (D). Di situ digambarkan bahwa Indonesia berada pada garis O, dan kalau ditarik garis lurus ke barat, maka menurut penghitungan ini arah kiblat masjid yang sekarang ini menuju ke Tanzania atau Zanzibar di Afrika Timur. Dia dan putera-puteranya pun memilih shalat di rumah.

Mungkin yang dimaksud peta yang ini. Memang sebagian besar wilayah indonesia masuk zona deklinasi “0″, namun perlu diketahui bahwa peta tersebut adalah peta global. Tergantung sifat batuan di suatu wilayah, ada kalanya suatu wilayah mempunyai medan magnet yang kuat namun arahnya tidak sama dengan arah medan magnet bumi secara global. Hal ini menyebabkan banyak wilayah belum tentu deklinasinya sama dengan peta global diatas. Dibutuhkan peta lokal untuk menentukan deklinasi wilayah tertentu dan saya belum menemukan untuk wilayah Jakarta. Sebagai contoh bandingkan peta magnet wilayah amerika ini dengan global map diatas. Sangat berbeda bukan? Saya pernah mengukur arah utara dengan kompas (di Jakarta) dan saya pastikan ada selisih yahg cukup signifikan antara utara yang ditunjukkan kompas (magnetic north) dengan “Utara Benar” (true north).

Masalah kedua adalah kata “kalau ditarik garis lurus ke barat“, bagaimana menarik garis ini? Jika anda menarik garis lurus dari Jakarta ke Mekkah diatas Peta, arah yang anda dapat bukanlah arah yang sesungguhnya! Mengapa? karena bumi bulat, sementara peta adalah proyeksi Bumi dalam dua dimensi. Dengan demikian akan ada distorsi jika anda menarik garis lurus di atas peta kemudian diproyeksikan di bola bumi. Garis yang demikian ini disebut dengan rhumb line atau loxodrom. Jika anda naik pesawat dari Jakarta mengikuti arah ini, anda tidak akan melewati kota Mekkah, alih-alih malah sampai ke kutub utara. Koq bisa? coba baca-baca artikel wikipedia.

Untuk menghitung sudut bearing (sudut antara arah “utara benar” dengan objek tujuan) harus dilakukan dengan matematika bola. Daripada hitung sendiri (dan belum tentu benar) anda bisa gunakan software ini untuk menghitung bearing kota anda dengan Ka’bah. Sebagai informasi, Ka’bah terletak pada koordinat 39o 49′ 34″ BT; 21o 25′ 21″ LU). Rumah saya di daerah Tanjung Priuk berada pada koordinat 106o 53′ 12 BT ; 6o 7′ 12″LS. Berdasarkan perhitungan dengan software diatas sudut bearing adalah 295,12o (dihitung dari utara berputar searah jarum jam) atau Jika kita menghadap ke barat, geser sebesar 25,12o ke arah utara (true north). Inilah arah kiblat dari Tanjung Priuk Jakarta. Untuk wilayah anda, silahkan hitung sendiri.

Menurut saya cara yang paling mudah menentukan arah kiblat adalah gunakan metode matahari, dan pada saat itu (kalau punya) kalibrasi kompas anda. Atau jika anda bisa mengukur perbedaan antara “utara magnet” dengan “utara benar” seharusnya arah kiblat dengan mudah bisa di tentukan.

Terakhir sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah ayat
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (Al baqarah: 115).

Jadi yang bener 9, 8.5 atau 7.5? waduh maaf… saya ga punya kompas.

Islam, Sains, astro

Matahari Mengelilingi Bumi

July 17th, 2006

Saya sudah membaca bukunya. “Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian Al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari” Pengarang: Ahmad Sabiq bin abdul lathif abu yusuf. Penerbit: pustaka al-furqon

Pertama kali dengar masalah ini dari posting di blog harry Sufehmi. Hari minggu kemarin ngobrol-ngobrol dengan seorang teman, ternyata doi punya bukunya. Buku ini saya pinjam dan langsung habis saya baca dalam waktu 3 jam.

Dari apa yang saya baca, menurut saya yang paling mengganggu bukanlah statemen bahwa “matahari mengelilingi Bumi” melainkan bagaimana mereka menafsirkan ayat Alqur’an untuk menjelaskan fenomena alam. Tampaknya kesimpulan ini juga bukan semata-mata hasil pemikiran si penulis, melainkan suatu pemahaman di lingkungan (aliran?) islam tertentu. Menurut saya agak sulit jika kita mendebat pendapat ini (kepada mereka) melalui bukti-bukti empiris, apalagi bukti yang di peroleh dari “ilmuwan kafir” :) .

Semua ulama sepakat bahwa Alqur’an bukanlah Kitab Ilmu pengetahuan. Terlalu gegabah menafsirkan fenomena alam yang tertulis dalam Alqur’an secara literal, karena Bahasa Alqur’an menggunakan gaya bahasa sastra tingkat tinggi. menafsirkan alQur’an dibutuhkan keluasan ilmu dari penafsir dalam bidangnya, dan itupun belum tentu 100% benar karena tafsir alQur’an adalah hasil pemikiran manusia, BUKAN AlQur’an itu sendiri.

Ambillah contoh yang mudah. Ayat 14 Surat Ar-Rahman: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”. Apa betul tubuh kita terbuat dari tanah kering? Kenyataannya manusia terbuat dari tulang, daging, darah, dll. Apakah dengan demikian AlQur’an Salah?

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Ali Imran 190-191).

AlQur’an sendiri mengatakan bahwa fenomena alam, juga adalah ayat-ayat Allah (ulama menyebutnya sebagai Ayat Kauniyah). Inilah yang seharusnya dilakukan untuk memahami Alam semesta: mentafakuri fenomena alam yang terjadi disekitar kita. Ayat kauniyah “terbaca” (namun belum tentu di tafakuri) oleh semua umat, baik muslim dan non-muslim. Perbedaannya adalah apakah ayat-ayat ini akan semakin meningkatkan keimanan ataukah menambah kekufuran? Akankah kita mengingkari Ayat-ayat Kauniyah ini? yang artinya juga mengingkari AlQur’an terutama Ali imran ayat 190.

heliocentris vs Geocentris
Buku ini menuduh para pengikut aliran heliocentris sebagai pro-Kafir (Karena pencetus heliocentris Copernicus yang adalah orang kafir). Benarkah? Statemen ini dengan mudah dapat dibalik, karena aliran geocentris juga (sebelum islam) dicetuskan oleh “orang kafir” diantaranya Plato, Aristoteles dan yang paling masyhur Claudius Ptolomeus. Dari pada berdebat masalah ini coba kita buka lagi lembar sejarah. Buku ini memiliki banyak ketidak konsistenan. Penulis mencaci maki “ilmuwan kafir” seperti Aristotles dan Pythagoras, padahal se-ide dan sepaham dengan penulis. (tentang geocentris). hal ini menunjukkan ketidakpahaman penulis tentang sejarah.

Dari wikipedia, teori heliocentris pertamakali (diketahui) di gagas oleh Yajnavalkya dalam kitab Shatapatha Brahmana (abad 9 SM). Orang Yunani kuno yang mempunyai ide ini pertama kali adalah Aristarchus (abad 3 SM) dan abad pertengahan adalah Ilmuwan india bernama Aryabhata (476–550M),

Ilmuwan muslim pada awalnya mengikuti paham geocentris. Namun seiring dengan perkembangan ilmu astronomi (yang juga dibangun oleh banyak ilmuwan muslim pada masanya), mengalami banyak masalah dengan dengan teori ini. Akhirnya seorang ilmuwan muslim bernama ibnu al-Shatir (1304–1375M), dalam kitabnya yang berjudul Nihayat as-Sul fi Tashih al-Usul mengagas teori heliocentris. Perlu diketahui masa hidup Ibnu Shatir adalah sebelum Copernicus (1473-1543M). Penelitian ahli sejarah menemukan bahwa karya Copernicus mirip dengan yang diperoleh oleh Ibnu Shatir sehingga muncul dugaan bahwa pemikiran Copernicus adalah hasil mencontek dari Ibnu Shatir (nahh!!).

geocentris ataupun heliocentris, belum terdengar (setidaknya oleh saya) ilmuwan muslim pada saat itu saling menghujat apa lagi saling mengkafirkan satu sama lain.

Kesimpulan: Matahari Mengelilingi Bumi?
menurut saya pribadi, kesimpulan ini (matahari mengelilingi bumi) benar, dengan catatan bahwa Alqur’an menggunakan bumi sebagai acuam diam. tidak salah toh? Jika bumi sebagai acuan diam maka seluruh benda langit secara relatif bergerak mengelilingi Bumi. Namun kesimpulan sebaliknya juga tidak salah. Bukti empiris menunjukkan bahwa Bumilah yang mengelilingi matahari. Bukti empiris adalah Ayat kauniyah yang juga datangnya Dari Allah SWT dan keduanya (ayat AlQur’an dan ayat Kauniyah) tidak saling bertentangan karena dalam AlQur’an tidak tertulis secara explisit bahwa matahari mengelilingi bumi (atau sebaliknya).
Lalu mengapakah karena hal ini kita saling menghujat sesama muslim?

Islam, Sains, astro

Dimana Voyager Sekarang?

July 4th, 2006

Yoyager"
Satelit Voyager (Voyager 1 & Voyager 2) adalah benda buatan manusia terjauh yang pernah ada. Saat ini berada pada jarak sekitar 100 kali jarak bumi-matahari dan bergerak dengan kecepatan hampri 1.500.000 km per hari. Sistem tenaga dalam satelit diharapkan masih mampu memberi “nyawa” hingga tahun 2020 yang pada saat itu satelit-satelit ini mungkin sudah mencapai jarak sekitar 13 milyar kilometer dari bumi.

sumber:
NASA

Sains, astro