<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ech's Blog &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://ech.web.id/blog/category/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ech.web.id/blog</link>
	<description>Thought and Journey</description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 May 2010 07:34:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Hisab Ramadhan Syawal 1429H</title>
		<link>http://ech.blogspot.com/2008/08/hisab-ramadhan-syawal-1429h.html</link>
		<comments>http://ech.blogspot.com/2008/08/hisab-ramadhan-syawal-1429h.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 03:46:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[astro]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, tidak lama lagi (jika Allah masih memberi umur) kita akan menjumpai bulan suci ramadhan, bulan yang kita nanti-nantikan.<br /><br />Seperti yang telah saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir, saya mencoba menghitung dengan kemampuan saya yang terbatas, dengan jurus yang sama seperti <a href="http://ech.blogspot.com/2007/09/hisab-ramadhan-syawal-1428h.html">tahun lalu</a> dan <a href="http://simplyvie.wordpress.com/2006/09/21/posisi-bulan-penentu-hilal-awal-dan-akhir-ramadhan-1427-h/">sebelumnya lagi</a> (belum nambah ilmu nih)<br /><br />Dari <a href="http://eclipse.gsfc.nasa.gov/phase/phases2001.html">kalender bulan dari NASA</a>, ijtimak atau konjungsi bulan pada tahun ini:<br />Ramadhan --&#62; Tanggal 30-08-2008: 19:58 UTC (31-08-2008 02:58 WIB )<br />Syawal ------&#62; Tanggal 29-09-2008: 08:12 UTC (29-09-2008 15:01 WIB)<br /><br />Dari data diatas tebakan saya mayoritas ormas atau lembaga berwenang akan seragam dalam menentukan awal ramadhan. Megapa? Karena data menunjukkan jarak antara konjungsi dengan terbenam matahari terpaut cukup lama( 21 jam untuk WIB dan 23 Jam untuk WIT). Semakin lama jarak konjungsi dan terbenam matari, semakin jauh jarak sudut antara matahari dan bulan sehingga kemungkinan besar Hilal pasti terlihat pada sore hari tanggal 31 Agustus 2008. Dengan demikian umat islam akan memulai ibadah shaum ramadhan mulai tanggal 1 september 2008.<br /><br />Berbeda untuk penentuan akhir ramadhan. Ijtima' tarjadi hanya sekitar 3 jam sebelum matahari terbenam untuk wilayah Indonsia Barat, dan 1 jam untuk wilayah indonesia timur. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, situasi ini menyebabkan hilal (walaupun diatas ufuk) kecil kemungkinan bisa dilihat mata. Karenanya ada potensi perbedaan tanggal untuk penentuan 1 syawal di masyarakat. Bisa jadi sebagian masyarakat berpuasa selama 29 hari, namun ada  yang menggenapkan 30 hari. Sebagai perbandingan, tahun 2007 lalu jarak konjungsi dengan terbenam matahari adalah 5 jam. Saat itu Pemerintah memutuskan 1 syawal jatuh esok lusa, sementara Muhammadiah memutuskan esok hari.<br /><br />Pada uraian di atas saya hanya memperhitungkan faktur jarak waktu antara konjungsi dengan matahari terbenam. walapun tidak akurat karena banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan seperti ketinggian, fase dan sudut elongasi terhadap matahari (dan kebetulan sekarang ini bukan fokus oprekan saya), mungkin ini kriteria yang paling mudah dipahami oleh masyarakat awam. Saya akan coba jelaskan sedikit dengan bahasa yang sederhana.<br /><br />Jika pada saat konjungsi jarak matahari-bulan nol derajat, maka setelah itu pelan-pelan bulan mulai berjarak terhadap matahari. Semakin lama semakin jauh. Oleh karena itu, ketinggian bulan (saat matahari terbenam) tergantung sudah berapa lama konjungsi terjadi dimana semakin lama, semakin tinggi. yang paling mudah adalah jika konjungsi terjadi lebih dari 7 jam saat matahari terbenam, hampir bisa dipastikan hilal dapat terlihat. Namun jika konjungsi terjadi kurang dari 7 jam sebelum matahari terbenam, maka kemungkinan besar hilal sulit dilihat, dan para ahli hisab mungkin akan berselisih karena kriteria hilal di saat kritis tersebut sampai saat ini ada banyak versi dan masih diperdebatkan.<br /><br />Jadi, kalau ada perbedaan lagi, pilih yang mana? Buka mata, buka pikiran, putuskan dengan ilmu dan yakinkan dengan iman. insya Allah, posting ini akan saya update dengan link dari artikel lain yang bermanfaat.<br /><br />Oyah hampir lupa. selamat menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.<br /><br />Seputar Rukyah dan hilal<br /><a href="http://mutoha.blogspot.com/2006/09/hilal-ramadhan.html">Artikel di Blog Mutoha</a><br /><a href="http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg22374.html">Kriteria Said Jenie tentang Hilal</a><br /><a href="http://rukyatulhilal.org/">Situs Rukyat-Hilal  Indonesia</a><br /><br />Seputar Awal Ramadhan/Syawal 1429H<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3323588-6572651395948278381?l=ech.blogspot.com' alt='' /></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, tidak lama lagi (jika Allah masih memberi umur) kita akan menjumpai bulan suci ramadhan, bulan yang kita nanti-nantikan.</p>
<p>Seperti yang telah saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir, saya mencoba menghitung dengan kemampuan saya yang terbatas, dengan jurus yang sama seperti <a href="http://ech.blogspot.com/2007/09/hisab-ramadhan-syawal-1428h.html">tahun lalu</a> dan <a href="http://simplyvie.wordpress.com/2006/09/21/posisi-bulan-penentu-hilal-awal-dan-akhir-ramadhan-1427-h/">sebelumnya lagi</a> (belum nambah ilmu nih)</p>
<p>Dari <a href="http://eclipse.gsfc.nasa.gov/phase/phases2001.html">kalender bulan dari NASA</a>, ijtimak atau konjungsi bulan pada tahun ini:<br />Ramadhan &#8211;> Tanggal 30-08-2008: 19:58 UTC (31-08-2008 02:58 WIB )<br />Syawal &#8212;&#8212;> Tanggal 29-09-2008: 08:12 UTC (29-09-2008 15:01 WIB)</p>
<p>Dari data diatas tebakan saya mayoritas ormas atau lembaga berwenang akan seragam dalam menentukan awal ramadhan. Megapa? Karena data menunjukkan jarak antara konjungsi dengan terbenam matahari terpaut cukup lama( 21 jam untuk WIB dan 23 Jam untuk WIT). Semakin lama jarak konjungsi dan terbenam matari, semakin jauh jarak sudut antara matahari dan bulan sehingga kemungkinan besar Hilal pasti terlihat pada sore hari tanggal 31 Agustus 2008. Dengan demikian umat islam akan memulai ibadah shaum ramadhan mulai tanggal 1 september 2008.</p>
<p>Berbeda untuk penentuan akhir ramadhan. Ijtima&#8217; tarjadi hanya sekitar 3 jam sebelum matahari terbenam untuk wilayah Indonsia Barat, dan 1 jam untuk wilayah indonesia timur. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, situasi ini menyebabkan hilal (walaupun diatas ufuk) kecil kemungkinan bisa dilihat mata. Karenanya ada potensi perbedaan tanggal untuk penentuan 1 syawal di masyarakat. Bisa jadi sebagian masyarakat berpuasa selama 29 hari, namun ada  yang menggenapkan 30 hari. Sebagai perbandingan, tahun 2007 lalu jarak konjungsi dengan terbenam matahari adalah 5 jam. Saat itu Pemerintah memutuskan 1 syawal jatuh esok lusa, sementara Muhammadiah memutuskan esok hari.</p>
<p>Pada uraian di atas saya hanya memperhitungkan faktur jarak waktu antara konjungsi dengan matahari terbenam. walapun tidak akurat karena banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan seperti ketinggian, fase dan sudut elongasi terhadap matahari (dan kebetulan sekarang ini bukan fokus oprekan saya), mungkin ini kriteria yang paling mudah dipahami oleh masyarakat awam. Saya akan coba jelaskan sedikit dengan bahasa yang sederhana.</p>
<p>Jika pada saat konjungsi jarak matahari-bulan nol derajat, maka setelah itu pelan-pelan bulan mulai berjarak terhadap matahari. Semakin lama semakin jauh. Oleh karena itu, ketinggian bulan (saat matahari terbenam) tergantung sudah berapa lama konjungsi terjadi dimana semakin lama, semakin tinggi. yang paling mudah adalah jika konjungsi terjadi lebih dari 7 jam saat matahari terbenam, hampir bisa dipastikan hilal dapat terlihat. Namun jika konjungsi terjadi kurang dari 7 jam sebelum matahari terbenam, maka kemungkinan besar hilal sulit dilihat, dan para ahli hisab mungkin akan berselisih karena kriteria hilal di saat kritis tersebut sampai saat ini ada banyak versi dan masih diperdebatkan.</p>
<p>Jadi, kalau ada perbedaan lagi, pilih yang mana? Buka mata, buka pikiran, putuskan dengan ilmu dan yakinkan dengan iman. insya Allah, posting ini akan saya update dengan link dari artikel lain yang bermanfaat.</p>
<p>Oyah hampir lupa. selamat menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.</p>
<p>Seputar Rukyah dan hilal<br /><a href="http://mutoha.blogspot.com/2006/09/hilal-ramadhan.html">Artikel di Blog Mutoha</a><br /><a href="http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg22374.html">Kriteria Said Jenie tentang Hilal</a><br /><a href="http://rukyatulhilal.org/">Situs Rukyat-Hilal  Indonesia</a></p>
<p>Seputar Awal Ramadhan/Syawal 1429H
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3323588-6572651395948278381?l=ech.blogspot.com' alt='' /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ech.blogspot.com/2008/08/hisab-ramadhan-syawal-1429h.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hisab Ramadhan Syawal 1428H</title>
		<link>http://ech.blogspot.com/2007/09/hisab-ramadhan-syawal-1428h.html</link>
		<comments>http://ech.blogspot.com/2007/09/hisab-ramadhan-syawal-1428h.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 04:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[astro]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, tidak lama lagi (jika Allah masih memberi umur) kita akan menjumpai bulan suci ramadhan, bulan yang kita nanti-nantikan.<br /><br />Menjelang datangnya bulan ramadhan biasanya orang ramai memperselisihkan kapan pastinya jatuh tanggal satu ramadhan dan tanggal satu syawal. Hal ini tampaknya "sudah menjadi tradisi" karena selalu terjadi setiap tahun. Ironis memang. Sebenarnya saya berharap bahwa tahun ini akan ada sebuah solusi dimana kita masyarakat Indonesia bisa megawali serta mengakhiri bulan ramadhan secara serempak tanpa ada perselisihan. Namun sebenarnya saya agak pesimis karena yang namanya keyakinan itu tidak bisa dipaksakan. Semoga Allah SWT menurunkan hidayahnya kepada kita semua.<br /><br />Namun disisi lain saya merasa bersyukur, karena dalam satu dua tahun terakhir, isu ini menjadi bahan diskusi hangat, setidaknya di dunia blogsfer. Ada beberapa blogger yang cukup mumpuni di bidang astronomi memberikan analisis objektif seputar hisab, ada juga yang melakukan rukyah hilal dan menuangkan laporannya. Setidaknya masyarakat mendapat masukan ilmiah seputar penentuan awal ramadhan. Saya pribadi juga banyak mendapat tambahan ilmu.<br /><br />Disini saya akan mencoba membuat analisis dengan ilmu saya yang terbatas. Saat ini saya masih menggunakan jurus yang sama seperti <a href="http://ech.blogspot.com/2006/09/hisab-ramadhan-syawal-1427h.html">tahun yang lalu</a>.<br /><br />Berdasarkan kalender <a href="http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/phase/phases2001.html">bulan dari NASA</a>, ijtimak atau konjungsi bulan pada tahun ini:<br />Ramadhan --&#62; Tanggal 11-09-2007: 11:4 UTC (18:44 WIB)<br />Syawal ------&#62; Tanggal 11-10-2007: 05:01 UTC (12:01 WIB)<br /><br />Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa pada tanggal 11 september, konjungsi terjadi setelah matahari terbenam yang artinya tidak mungkin terlihat hilal (karena bulan terbenam lebih dahulu dari matahari). Hal ini juga berlaku di Indonesia tengah dan Indonesia timur. Dengan demikian masyarakat Indonesia dapat dipastikan akan menggenapkan bulan sya'ban dan mulai berpuasa pada keesokan lusa yaitu tanggal 13 September 2007<br /><br />Semetara ijtimak untuk bulan syawal terjadi pada tanggal 11 Oktober 2007 pada pukul 12.01 WIB. Umur bulan pada saat matahari terbenam kurang lebih lima setengah jam.<br />Umur bulan yang kurang dari 6 jam biasanya belum cukup umur untuk tampil sebagai hilal, walaupun faktanya pada saat matahari terbenam bulan berada diatas ufuk. untuk itu mari kita chek dengan menggunakan software <a href="http://www.starlight.demon.co.uk/mooncalc">mooncalc</a>. Hasilnya untuk kota Jakarta adalah sebagai berikut:<br /><br /><img alt="Hisab 1428H 1" src="http://www.geocities.com/ech_id/images/hisab1.jpg" /><br /><br /><img alt="Hisab 1428H 2" src="http://www.geocities.com/ech_id/images/hisab2.jpg" /><br /><br /><img alt="Hisab 1428H 3" src="http://www.geocities.com/ech_id/images/hisab3.jpg" /><br /><br /><img alt="Hisab 1428H 4" src="http://www.geocities.com/ech_id/images/hisab4.jpg" /><br /><br />Hasilnya, ketinggian hilal (di Jakarta) diperkirakan hanya sebesar 0.27 derajat dengan jarak waktu antara terbenam matahari dan terbenam bulan hanya 2 menit 30 detik. kalau ditinjau dari sudut pandang astronomi, ketinggian hilal sebesar ini terlalu tipis untuk bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun bisa jadi ada orang yang "bisa melihat" hilal seperti ini. Kondisi hilal bulan syawal tahun ini kasusnya mirip <a href="http://ech.blogspot.com/2006/09/hisab-ramadhan-syawal-1427h.html">sekali dengan syawal tahun lalu.</a><br /><br />Dengan hasil seperti ini kemungkinan besar pemerintah akan menetapkan satu syawal jatuh pada tanggal 13 Oktober 2007, namun bisa jadi ada sebagian masyarakat yang akan merayakan idul fitri pada hari sebelumnya (12 Oktober 2007).<br /><br />Selamat menunaikan Ibadah di bulan Ramadhan. Mohon maaf lahir dan bathin.<br /><br />Artikel lain seputar penentuan Awal Ramadhan/Syawal 1428H:<br /><a href="http://www.geocities.com/ech_id/attach/makrufi.pdf">- AWAL RAMADHAN, SYAWWAL DAN ZULHIJJAH 1428 H oleh M. Ma’rufin Sudibyo (pdf)</a><br /><a href="http://rukyatulhilal.org/visibilitas/1428/ramadhan.html">- Rukyatul Hilal Ramadhan 1428H</a><br /><a href="http://rukyatulhilal.org/visibilitas/1428/syawal.html">- Rukyatul Hilal Syawal 1428H</a><br /><br />Artikel berkaitan pada tahun-tahun sebelumnya:<br />- <a href="http://mutoha.blogspot.com/2006/09/hilal-ramadhan.html">Hilal Ramadhan</a><br />- <a href="http://simplyvie.wordpress.com/2006/09/21/posisi-bulan-penentu-hilal-awal-dan-akhir-ramadhan-1427-h/">Hilal Awal Ramadhan dan Hilal Awal Syawal 1427 H</a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3323588-7479460820887619235?l=ech.blogspot.com' alt='' /></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, tidak lama lagi (jika Allah masih memberi umur) kita akan menjumpai bulan suci ramadhan, bulan yang kita nanti-nantikan.</p>
<p>Menjelang datangnya bulan ramadhan biasanya orang ramai memperselisihkan kapan pastinya jatuh tanggal satu ramadhan dan tanggal satu syawal. Hal ini tampaknya &#8220;sudah menjadi tradisi&#8221; karena selalu terjadi setiap tahun. Ironis memang. Sebenarnya saya berharap bahwa tahun ini akan ada sebuah solusi dimana kita masyarakat Indonesia bisa megawali serta mengakhiri bulan ramadhan secara serempak tanpa ada perselisihan. Namun sebenarnya saya agak pesimis karena yang namanya keyakinan itu tidak bisa dipaksakan. Semoga Allah SWT menurunkan hidayahnya kepada kita semua.</p>
<p>Namun disisi lain saya merasa bersyukur, karena dalam satu dua tahun terakhir, isu ini menjadi bahan diskusi hangat, setidaknya di dunia blogsfer. Ada beberapa blogger yang cukup mumpuni di bidang astronomi memberikan analisis objektif seputar hisab, ada juga yang melakukan rukyah hilal dan menuangkan laporannya. Setidaknya masyarakat mendapat masukan ilmiah seputar penentuan awal ramadhan. Saya pribadi juga banyak mendapat tambahan ilmu.</p>
<p>Disini saya akan mencoba membuat analisis dengan ilmu saya yang terbatas. Saat ini saya masih menggunakan jurus yang sama seperti <a href="http://ech.blogspot.com/2006/09/hisab-ramadhan-syawal-1427h.html">tahun yang lalu</a>.</p>
<p>Berdasarkan kalender <a href="http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/phase/phases2001.html">bulan dari NASA</a>, ijtimak atau konjungsi bulan pada tahun ini:<br />Ramadhan &#8211;> Tanggal 11-09-2007: 11:4 UTC (18:44 WIB)<br />Syawal &#8212;&#8212;> Tanggal 11-10-2007: 05:01 UTC (12:01 WIB)</p>
<p>Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa pada tanggal 11 september, konjungsi terjadi setelah matahari terbenam yang artinya tidak mungkin terlihat hilal (karena bulan terbenam lebih dahulu dari matahari). Hal ini juga berlaku di Indonesia tengah dan Indonesia timur. Dengan demikian masyarakat Indonesia dapat dipastikan akan menggenapkan bulan sya&#8217;ban dan mulai berpuasa pada keesokan lusa yaitu tanggal 13 September 2007</p>
<p>Semetara ijtimak untuk bulan syawal terjadi pada tanggal 11 Oktober 2007 pada pukul 12.01 WIB. Umur bulan pada saat matahari terbenam kurang lebih lima setengah jam.<br />Umur bulan yang kurang dari 6 jam biasanya belum cukup umur untuk tampil sebagai hilal, walaupun faktanya pada saat matahari terbenam bulan berada diatas ufuk. untuk itu mari kita chek dengan menggunakan software <a href="http://www.starlight.demon.co.uk/mooncalc">mooncalc</a>. Hasilnya untuk kota Jakarta adalah sebagai berikut:</p>
<p><img alt="Hisab 1428H 1" src="http://www.geocities.com/ech_id/images/hisab1.jpg" /></p>
<p><img alt="Hisab 1428H 2" src="http://www.geocities.com/ech_id/images/hisab2.jpg" /></p>
<p><img alt="Hisab 1428H 3" src="http://www.geocities.com/ech_id/images/hisab3.jpg" /></p>
<p><img alt="Hisab 1428H 4" src="http://www.geocities.com/ech_id/images/hisab4.jpg" /></p>
<p>Hasilnya, ketinggian hilal (di Jakarta) diperkirakan hanya sebesar 0.27 derajat dengan jarak waktu antara terbenam matahari dan terbenam bulan hanya 2 menit 30 detik. kalau ditinjau dari sudut pandang astronomi, ketinggian hilal sebesar ini terlalu tipis untuk bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun bisa jadi ada orang yang &#8220;bisa melihat&#8221; hilal seperti ini. Kondisi hilal bulan syawal tahun ini kasusnya mirip <a href="http://ech.blogspot.com/2006/09/hisab-ramadhan-syawal-1427h.html">sekali dengan syawal tahun lalu.</a></p>
<p>Dengan hasil seperti ini kemungkinan besar pemerintah akan menetapkan satu syawal jatuh pada tanggal 13 Oktober 2007, namun bisa jadi ada sebagian masyarakat yang akan merayakan idul fitri pada hari sebelumnya (12 Oktober 2007).</p>
<p>Selamat menunaikan Ibadah di bulan Ramadhan. Mohon maaf lahir dan bathin.</p>
<p>Artikel lain seputar penentuan Awal Ramadhan/Syawal 1428H:<br /><a href="http://www.geocities.com/ech_id/attach/makrufi.pdf">- AWAL RAMADHAN, SYAWWAL DAN ZULHIJJAH 1428 H oleh M. Ma’rufin Sudibyo (pdf)</a><br /><a href="http://rukyatulhilal.org/visibilitas/1428/ramadhan.html">- Rukyatul Hilal Ramadhan 1428H</a><br /><a href="http://rukyatulhilal.org/visibilitas/1428/syawal.html">- Rukyatul Hilal Syawal 1428H</a></p>
<p>Artikel berkaitan pada tahun-tahun sebelumnya:<br />- <a href="http://mutoha.blogspot.com/2006/09/hilal-ramadhan.html">Hilal Ramadhan</a><br />- <a href="http://simplyvie.wordpress.com/2006/09/21/posisi-bulan-penentu-hilal-awal-dan-akhir-ramadhan-1427-h/">Hilal Awal Ramadhan dan Hilal Awal Syawal 1427 H</a>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3323588-7479460820887619235?l=ech.blogspot.com' alt='' /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ech.blogspot.com/2007/09/hisab-ramadhan-syawal-1428h.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Navigasi Langit</title>
		<link>http://ech.blogspot.com/2007/04/navigasi-langit.html</link>
		<comments>http://ech.blogspot.com/2007/04/navigasi-langit.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 15:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[astro]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<span style="font-style: italic">Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui </span>(QS Al An'aam:97)<br /><br /><span style="font-style: italic">".. dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk</span> (QS An Nahl: 16)<br /><br />Kedua ayat Alqur'an diatas menginspirasikan saya ketika menyusun Tugas Akhir sekitar 6 tahun yang lalu. Menurut Alqur'an, Salah satu hikmah diciptakannya bintang-bintang bagi manusia adalah sebagai alat bantu navigasi. Dari sini berkembanglah ilmu Celestial navigation atau dalam bahasa Indonesianya "Navigasi langit", sebuah cabang ilmu yang menggunakan bintang-bintang sebagai penunjuk arah dan kedudukan. penentuan kedudukan menggunakan bintang-bintang sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu. terdapat beberapa teknik atau metoda yang sudah dikenal secara umum (dalam Tugas akhir waktu itu saya merumuskan sebuah metode baru)<br /><br />Walaupun demikian, wacana navigasi langit masih sangat sedikit dalam khasanah keilmuan di Indonesia, setidaknya dari lingkungan sekitar saya pada waktu itu. Saya ingat ketika saya mempresentasikan TA saya di depan dosen-dosen astronomi di Boscha, mereka semua sangat antusias dan berkomentar (kira-kira) "tema seperti ini belum pernah dibahas di jurusan kita". Oyah, Saya harus berterima kasih kepada staff dosen terutama pak Moedji Raharto (kepala UPT Boscha saat itu) yang telah mengizinkan saya menggunakan teleskop Bosscha yang saya idam-damkan dari kecil. "Kamu tuh mahasiswa non-astronomi pertama yang pernah pakai teleskop ini" kata mas irfan, "kuncen"nya Bosscha.<br /><br />Di jurusan saya sendiri juga hampir sama, draft TA saya tidak dikembalikan oleh dosen penguji (diminta oleh mereka dengan alasan ingin baca-baca lagi), Lebih-lebih lagi dosen pembimbing saya. beliau bersusah payah mencarikan saya pesawat terbang untuk menguji metode saya (nyewa pesawat kan mahal), Begitu semangatnya beliau rela bangun jam 3 pagi untuk menemani saya berkonsultasi, mengambil data, plus jadi tukang foto! (Dokumentasi foto juga inisiatip beliau, bukan keinginan saya). Terus terang saya tidak akan melupakan kebaikan beliau seumur hidup. Juga semangatnya yang menjadi energi buat saya untuk tidak berputus asa menyelesaikan Tugas Akhir. Sebenarnya saat itu nasib saya sedang berada diujung tanduk antara lulus atau D.O<br /><br />dengan perkembangan teknologi navigasi sekarang ini, teknik navigasi langit tinggal menjadi seni, bukan lagi menjadi alternatif utama. Ya tidak bisa disalahkan karena teknik navigasi langit memang "agak ribet", namun sebenarnya sangat mengasyikkan. Apalagi kalau mengingat kutipan ayat diatas, rasanya benar-benar menjadi "ulil albab" yang disebut dalam Alqur'an.<br /><br />Dengan ini  saya ingin berkomitmen untuk menshare sedikit banyak teknik navigasi langit yang saya ketahui melalui blog ini. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan. Terus terang sudah lama saya berkeinginan tapi entah kenapa koq belum kesampaian. Tunggu yah postingan-postinganya. Insya Allah....<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3323588-4263534873290933664?l=ech.blogspot.com' alt='' /></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-style: italic;">Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui </span>(QS Al An&#8217;aam:97)</p>
<p><span style="font-style: italic;">&#8220;.. dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk</span> (QS An Nahl: 16)</p>
<p>Kedua ayat Alqur&#8217;an diatas menginspirasikan saya ketika menyusun Tugas Akhir sekitar 6 tahun yang lalu. Menurut Alqur&#8217;an, Salah satu hikmah diciptakannya bintang-bintang bagi manusia adalah sebagai alat bantu navigasi. Dari sini berkembanglah ilmu Celestial navigation atau dalam bahasa Indonesianya &#8220;Navigasi langit&#8221;, sebuah cabang ilmu yang menggunakan bintang-bintang sebagai penunjuk arah dan kedudukan. penentuan kedudukan menggunakan bintang-bintang sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu. terdapat beberapa teknik atau metoda yang sudah dikenal secara umum (dalam Tugas akhir waktu itu saya merumuskan sebuah metode baru)</p>
<p>Walaupun demikian, wacana navigasi langit masih sangat sedikit dalam khasanah keilmuan di Indonesia, setidaknya dari lingkungan sekitar saya pada waktu itu. Saya ingat ketika saya mempresentasikan TA saya di depan dosen-dosen astronomi di Boscha, mereka semua sangat antusias dan berkomentar (kira-kira) &#8220;tema seperti ini belum pernah dibahas di jurusan kita&#8221;. Oyah, Saya harus berterima kasih kepada staff dosen terutama pak Moedji Raharto (kepala UPT Boscha saat itu) yang telah mengizinkan saya menggunakan teleskop Bosscha yang saya idam-damkan dari kecil. &#8220;Kamu tuh mahasiswa non-astronomi pertama yang pernah pakai teleskop ini&#8221; kata mas irfan, &#8220;kuncen&#8221;nya Bosscha.</p>
<p>Di jurusan saya sendiri juga hampir sama, draft TA saya tidak dikembalikan oleh dosen penguji (diminta oleh mereka dengan alasan ingin baca-baca lagi), Lebih-lebih lagi dosen pembimbing saya. beliau bersusah payah mencarikan saya pesawat terbang untuk menguji metode saya (nyewa pesawat kan mahal), Begitu semangatnya beliau rela bangun jam 3 pagi untuk menemani saya berkonsultasi, mengambil data, plus jadi tukang foto! (Dokumentasi foto juga inisiatip beliau, bukan keinginan saya). Terus terang saya tidak akan melupakan kebaikan beliau seumur hidup. Juga semangatnya yang menjadi energi buat saya untuk tidak berputus asa menyelesaikan Tugas Akhir. Sebenarnya saat itu nasib saya sedang berada diujung tanduk antara lulus atau D.O</p>
<p>dengan perkembangan teknologi navigasi sekarang ini, teknik navigasi langit tinggal menjadi seni, bukan lagi menjadi alternatif utama. Ya tidak bisa disalahkan karena teknik navigasi langit memang &#8220;agak ribet&#8221;, namun sebenarnya sangat mengasyikkan. Apalagi kalau mengingat kutipan ayat diatas, rasanya benar-benar menjadi &#8220;ulil albab&#8221; yang disebut dalam Alqur&#8217;an.</p>
<p>Dengan ini  saya ingin berkomitmen untuk menshare sedikit banyak teknik navigasi langit yang saya ketahui melalui blog ini. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan. Terus terang sudah lama saya berkeinginan tapi entah kenapa koq belum kesampaian. Tunggu yah postingan-postinganya. Insya Allah&#8230;.
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3323588-4263534873290933664?l=ech.blogspot.com' alt='' /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ech.blogspot.com/2007/04/navigasi-langit.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
