Archive
Hisab Ramadhan/Syawal 1426H #2
Berkaitan dengan penentuan awal ramadhan dan syawal tahun ini, sebenarnya saya sedang menunggu-nunggu “fatwa” dari observatorium Bosscha. Koq Bosscha, bukan NU/ Muhammadiyah, Persis, atau lainnya? Bukan apa-apa koq. Saya lebih menyukai perhitungan dari kalangan akademik yang relatif lebih netral. Lagi pula “fatwa” yang saya maksud adalah analisa kedudukan bulan, bukan penentuan jatuhnya tanggal satu ramadhan. Sambil nunggu karena sampai hari ini belum keluar juga, saya coba-coba hitung sendiri.
Metode pertama, lihat almanak Bulan dari NASA, untuk bulan Oktober/ November tahun 2005 konjungsi bulan atau Ijtimak adalah:
Ramadhan –> Tanggal 03-10-2005: 10:28 UTC (17.28 WIB)
Syawal ——-> Tanggal 02-11-2005: 01:25 UTC (08.25 WIB)
Metode ini sangat sederhana, hanya melihat kapan Konjungsi terjadi. dengan dasar teori yang telah dijelaskan di artikel #1, konjungsi awal ramadhan terjadi pada tanggal 3 Oktober 2005 pukul 17.28 WIB, sekitar 15 menit menjelang terbenam matahari. Ketinggian hilal pada hari itu sangat rendah, mustahil terlihat (Hilal biasanya terlihat jika jarak antara konjungsi dengan saat matahari terbenam adalah lebih dari 6 jam). Praktis bisa disimpulkan awal ramadhan jatuh pada lusa harinya yaitu tanggal 5 Oktober 2005. Sementara Konjungsi awal syawal terjadi pada tanggal 2 November 2005 pukul 08.25 WIB. Selisih waktu sekitar 9 1/2 jam dari waktu terbenam matahari. Saat matahari terbenam ketinggian hilal dipastikan cukup tinggi untuk terlihat. Maka hari raya idul fitri kemungkinan besar terjadi pada tanggal 3 November 2005 (tergantung apakah hilal benar telihat atau tidak). Panjang bulan Ramadhan tahun ini adalah 29 hari.
Metode kedua. Gunakan tool yang ada diinternet. saya menggunakan Mooncalc. Dengan tools ini untuk posisi di Jakarta (106d 45m BT; 06d 08m LS) hasilnya adalah sbb:
Ramadhan 1426H
Dari hasil diperoleh bahwa pada tanggal 3 Oktober 2005 Bulan berada dibawah ufuk!. Artinya mustahil terlihat hilal. KEsimpulannya ramadhan jatuh pada tanggal 5 Oktober 2005
Syawal 1426H
Dari hasil tidak ada informasi tentang ketinggian hilal, namun terdapat informasi bahwa umur bulan juga diketahui adalah 9 jam 22 menit. selisih waktu terbenam matahari dan bulan (sunset-moonset) adalah 13 menit 46 detik. Jika di hitung dengan asumsi bulan dan matahari beredar dengan lintasan yang memotong titik zenith secara tegak lurus, ketinggian hilal adalah 3,44 derajat. Dari hasil ini kemungkinan hilal akan terlihat dan warga jakarta akan merayakan lebaran pada tanggal 3 November 2005. Hasil dari metode kedua tidak jauh berbeda dengan metode pertama.
Untuk lebih pasti mari kita tunggu hasil hisab dari pakar yang berwenang.
UPDATE
Pengumuman dari pemerintah (u.p departemen agama) pada3 oktober 2005, satu ramadhan jatuh pada tanggal 5 Oktober 2005 sesuai hasil perhitungan diatas. Selamat menunaikan ibadah puasa.
Hisab Ramadhan/Syawal 1426H #1
Menjelang ramadhan, mungkin ada yang bertanya, kenapa sering sekali umat islam berselisih paham tentang penentuan awal ramadhan/syawal? Padahal dengan teknologi yang ada saat ini harusnya perhitungan posisi bulan sudah sangat akurat. Benar sekali untuk pernyataan bahwa metode perhitungan posisi bulan saat ini sudah akurat, namun masalah yang ada adalah definisi “Hilal” itu sendiri.
Perdefinisi, hilal adalah bulan sabit pertama kali yang terlihat setelah bulan mengalami konjungsi. Konjungsi adalah suatu saat dimana matahari dan bulan berada segaris di garis ekliptik. kadang konjungsi menghasilkan gerhana matahari, dimana piringan bulan tepat menutupi piringan matahari, namun hal ini tidak selalu terjadi karena bidang orbit bulan tidak berhimpit dengan bidang ekliptika (bidang edar bumi mengelilingi matahari). Jika bidang edar bulan mengelilingi bumi satu bidang dengan bidang edar bumi mengelilingi matahari, maka kita akan melihat gerhana matahari dan gerhana bulan setiap bulan.
Konjungsi juga adalah kondisi dimana matahari tepat “menyalip” bulan. Gerak semu harian matahari lebih cepat sekitar hampir satu jam setiap harinya dibanding gerak semu harian bulan. Hal ini menyebabkan bulan setiap harinya terlambat terbit/terbenam di banding matahari.
Jika konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam, dipastikan saat matahari terbenam Bulan masih berada diatas ufuk. Pada saat itulah Hilal seharusnya akan terlihat. Masalahnya, tebalnya atmosfir di sekitar garis horison dan lemahnya cahaya hilal menyebabkan hilal tidak selalu terlihat. Semakin sore terjadinya konjungsi, semakin rendah ketinggian hilal dan semakin lemah cahaya hilal. Disinilah terjadi perbedaan pendapat. Sebagian orang berpendapat, bahwa hilal haruslah “terlihat”. Walaupun (berdasarkan perhitungan) hilal berada diatas ufuk namun tidak ada seorangpun yang melihat, maka esok hari belumlah menjadi awal bulan. Dipihak lain, Keberadaan hilal diatas ufuk secara matematis, sudah menjadi bukti de-facto bahwa esok hari adalah sudah masuk awal bulan.
Ada sedikit masalah lain, yaitu pertanyaan “Seberapa tinggi bulan agar terlihat sebagai hilal?” Para ahli astronomi telah memperhitungkan kriteria penampakan hilal. Menurut mereka, hilal baru akan terlihat pada ketinggian sekitar 6-7 derajat dari garis horison. Dibawah itu akan sangat sulit bahkan pada ketinggian yang lebih rendah lagi akan mustahil terlihat. Berbagai negara mempunyai kriteria yang berbeda-beda untuk ketinggian hilal yang pasti terlihat, rata-rata menetapkan antara 4-6 derajat. Di indonesia tidak terlalu jelas kriterianya, Konon seh sekitar 2 derajat! Jadi jika secara perhitungan ketinggian hilal ramadhan tahun ini adalah 2 derajat kurang sedikit, pemerintah cenderung menetapkan awal bulan pada lusa harinya, karena hilal mustahil terlihat, dan tidak ada satupun “kru pengamat hilal dari pemerintah” yang melihat. Namun ada saja orang yang berhasil melihat hilal dengan ketinggian serendah itu yang menyebabkan ada sebagian masyarakat yang memulai puasa keesokan harinya. Untuk kasus seperti ini, saya pribadi agak ragu jika ada yang mengaku melihat hilal serendah itu. Saya tidak pernah melihat hilal, namun mengutip perkataan salah satu dosen astronomy di ITB dalam seminar tentang hilal beberapa tahun lalu “Itu pasti salah lihat!”
Namun jawaban dari pertanyaan diatas “Seberapa tinggi bulan agar terlihat sebagai hilal?” belum terjawab secara tuntas. Dibutuhkan sebuah riset yang lebih mendalam. Saya pribadi memandang pemerintah indonesia (yang sekarang) kurang wibawa untuk menetapkan awal ramadhan secara tegas karena ulah para penjabat yang tidak bisa dipercaya (udah.. udah… jangan ngelantur ngomongin politik). However, jika ada perbedaan yang terjadi hendaklah jangan jadi bibit perpecahan. Mengenai penentuan awal ramadhan ini Allah berfirman dalam Alqur’an “…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..” (QS. Albaqoroh: 185). Yang penting, selalu menetapkan sesuatu dengan ILMU.
wallahu a’lam bisshowab.
Kalibrasi Kiblat
Beberapa hari ini saya terima banyak email (lebih dari 4 buah) berupa forward-an email berisi informasi bahwa pada tanggal 27 mei pukul 16.18 WIB, matahari akan berada tepat tegak lurus di atas kota mekah, menjadikan momen ini sebagai waktu yang tepat untuk mengkalibrasi arah kiblat.
Seorang teman melalui email mengkonfrimas hal ini “bener ga ni ech?” “bener…” jawab saya. “tapi yang saya tahu bukan tanggal 27 mei melainkan tanggal 28 mei”. However kalau cuma meleset sehari tampaknya tidak ada perbedaan yang berarti. Saya sendiri luput memeriksa arah kiblat saya pada tanggal dan jam tersebut karena sedang berada di jalan tol.
Berkaitan tentang email diatas, tahukah anda bahwa:
- Dalam setahun matahari 2x tepat berada di atas mekkah
- Dan sebaliknya dalam setahun matahari juga 2x tepat berada di bawah kota mekkah
Jadi sebenarnya umat islam di buka bumi (bukan di planet lain la yaa..) berkesempatan 4x dalam setahun untuk melakukan kalibrasi arah kiblat, yaitu:
* Pada saat matahari tepat tegak lurus diatas ka’bah
(berarti arah bayangan membelakangi kiblat) yaitu:
28 mei pukul 16:18 WIB
16 Juli pukul 16:27 WIB
* Pada saat matahari tepat tegak lurus di bawah kiblat
(berarti arah bayangan menuju arah kiblat) yaitu:
28 November pukul 04:09 WIB (21:09 UT)
17 Januari pukul 04:29 WIB (21:29 UT)
Yang dua terakhir ini tidak bisa jadi penentu arah kiblat di indonesia
(karena matahari di bawah ufuk), tapi cocok sebagai penentu arah kiblat di wilayah lain di dunia yang waktunya berbeda dengan indonesia, misalnya daerah amerika atau eropa.
Jadi, buat yang kemarin kelewat mengkalibrasi arah kiblat, jangan tunggu sampai tahun depan, bulan Juli ini akan terjadi lagi. Untuk wilayah eropa atau amerika tunggu sampai bulan november depan.
Terus, buat yang suka ngejunk, forward saja informasi ini menjelang tanggal 16 Juli besok, heheh…
The Quran
Tidak sesuai dengan URL-nya, thequran website adalah “Christian Resources About Islam” dan berisi kebohongan tentang agama islam.
Marhaban yaa Ramadhan
Bulan yang di tunggu-tunggu segera datang….
Marhaban yaa ramadhan.
buat teman-teman dan para pemirsa semua, saya memohon maaf atas segala kesalahan. semoga Alloh membersihkan jiwa dan diri serta menerima semua amal ibadan kita.
However, akhirnya saya terima juga informasi tentang penentuan awal ramadhan dan syawal 1425 hijriah di situs astronomi ITB
Berikut adalah copy paste info tersebut, semoga bermanfaat
—
1. Awal Ramadhan 1425 H
Ijtimak atau konjungsi akhir Sya’ban 1425 H (Bulan dan Matahari pada posisi bujur ekliptika yang sama) akan berlangsung pada hari Kamis, tanggal 14 Oktober 2004 pada jam 09:48 wib.
14 Oktober 2004
Posisi Bulan pada saat Matahari terbenam pada tanggal 14 Oktober 2004 di wilayah Indonesia mempunyai tinggi antara 2 hingga 4 derajat.
Meurauke:
Pada hari Kamis, tanggal 14 Oktober 2004 di Meurauke (lintang f= ?08o 30′ atau ?08o.500 dan bujur geografis l= +140o 27′ atau 140o.450 Bujur Timur), Matahari terbenam pada jam 15:33 wib dan Bulan terbenam pada jam 15:42 wib. (Senja Astronomi berakhir pada jam 16:46 wib). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 14 Oktober 2004 adalah +2o 13′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 0%.
Sabang:
Pada hari Kamis, tanggal 14 Oktober 2004 di Sabang ( lintang geografis f = +5o 34′ atau +5o.900 dan l = bujur geografis 95o 19′ (95o.350) Bujur Timur) Matahari terbenam pada jam 18:24 wib dan Bulan terbenam pada jam 18:39 wib. (Senja Astronomi berakhir pada jam 19:37 wib). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 14 Oktober 2004 adalah +3o 36′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 0%.
Pelabuhan Ratu:
Pada tanggal 14 Oktober 2004 di Pelabuhan Ratu ( lintang geografis f = ?7o.12 dan l = bujur geografis 106o.433 ) Matahari terbenam pada jam 17:48 wib dan Bulan terbenam 14 menit kemudian atau terbenam pada jam 18:02 wib. Kedudukan Bulan pada saat Matahari terbenam pada tanggal 14 Oktober 2004 itu adalah +03o 25′ (3 derajat 25 menit). Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 0%.
Ukuran sabit Bulan tersebut merupakan sabit Bulan yang belum dapat dikenali oleh mata bugil manusia sebagai hilal. Namun menurut tradisi Hisab-Rukyat di Indonesia beberapa tahun terakhir, menunjukkan “kesepakatan” bahwa ketinggian Bulan pada saat Matahari terbenam di atas 2 derajat telah bisa dipergunakan menetapkan awal Ramadhan, Syawal atau Dzulhijjah. Pada tanggal 14 Oktober 2004 tinggi Bulan saat Matahari terbenam mencapai +03o 25′ (di seluruh wilayah Indonesia tinggi Bulan saat Matahari terbenam mencapai 2 hingga 4 derajat). Oleh karenanya shaum 1 Ramadhan 1425 H dimulai pada hari Jum’at tanggal 15 Oktober 2004, tarawih dimulai pada tanggal 14 Oktober 2004.
Mekah:
Pada hari Kamis, tanggal 14 Oktober 2004 di Mekah (lintang f= +21o 25′ atau +21o.417 dan bujur geografis l= +39o 50′ atau 39o.833 Bujur Timur), Matahari terbenam pada jam 21:57 wib atau 17:57 waktu local dan Bulan terbenam pada jam 22:15 wib atau jam 18:15 waktu lokal. (Senja Astronomi berakhir pada jam 19:14 waktu lokal atau 23:14 wib). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 14 Oktober 2004 adalah +4o 07′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 0%.
15 Oktober 2004
Meurauke:
Pada hari Jum’at, tanggal 15 Oktober 2004 di Meurauke (lintang f= ?08o 30′ atau ?08o.500 dan bujur geografis l= +140o 27′ atau 140o.450 Bujur Timur), Matahari terbenam pada jam 15:33 wib dan Bulan terbenam pada jam 16:35 wib. (Senja Astronomi berakhir pada jam 16:46 wib). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 15 Oktober 2004 adalah +14o 35′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 2%.
Pada hari Jum’at, tanggal 15 Oktober 2004 di Sabang ( lintang geografis f = +5o 34′ atau +5o.900 dan l = bujur geografis 95o 19′ (95o.350) Bujur Timur) Matahari terbenam pada jam 17:48 wib dan Bulan terbenam pada jam 18:55 wib. (Senja Astronomi berakhir pada jam 19:00 wib). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 15 Oktober 2004 adalah +15o 40′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 2%.
Pada hari Jum’at, tanggal 15 Oktober 2004 di Pelabuhan Ratu ( lintang geografis f = ?7o.12 dan l = bujur geografis 106o.433 Bujur Timur) Matahari terbenam pada jam 17:48 wib dan Bulan terbenam pada jam 18:55 wib. (Senja Astronomi berakhir pada jam 19:00 wib). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 15 Oktober 2004 adalah +15o 40′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 2%.
Ukuran sabit Bulan tersebut merupakan sabit Bulan yang dapat dikenali oleh mata bugil manusia sebagai hilal. Sebagian masyarakat muslim ada yang memulai awal shaum Ramadhan 1425 H atas dasar kriteria visibilitas hilal tersebut di atas, misalnya Brunei Darussalam, awal shaum Ramadhan 1425 H lebih cenderung memilih hari Sabtu tanggal 16 Oktober 2004.
Mekah:
Pada hari Jum’at, tanggal 15 Oktober 2004 di Mekah (lintang f= +21o 25′ atau +21o.417 dan bujur geografis l= +39o 50′ atau 39o.833 Bujur Timur), Matahari terbenam pada jam 21:56 wib atau 17:56 waktu local dan Bulan terbenam pada jam 22:55 wib atau jam 18:55 waktu lokal. (Senja Astronomi berakhir pada jam 23:14 wib atau jam 19:14 waktu lokal). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 15 Oktober 2004 adalah +12o 29′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 3%.
2. Awal Syawal 1425 H
Ijtimak atau konjungsi akhir Ramadhan 1425 H (Bulan dan Matahari pada posisi bujur ekliptika yang sama) akan berlangsung pada hari Jum’at, tanggal 12 November 2004 pada jam 21:27 wib.
12 November 2004
Posisi Bulan pada saat Matahari terbenam pada tanggal 12 November 2004 di wilayah Indonesia masih berada sekitar 3 sampai 4 derajat di bawah ufuk/horizon.
Meurauke:
Pada hari Jum’at, tanggal 12 November 2004 di Meurauke (lintang f= ?08o 30′ atau ?08o.500 dan bujur geografis l= +140o 27′ atau 140o.450 Bujur Timur), Matahari terbenam pada jam 15:37 wib dan Bulan terbenam pada jam 15:17 wib. (Senja Astronomi berakhir pada jam 16:53 wib). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 12 November 2004 adalah ?4o 16′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 0%.
Sabang:
Pada hari Jum’at, tanggal 12 November 2004 di Sabang ( lintang geografis f = +5o 34′ atau +5o.900 dan l = bujur geografis 95o 19′ (95o.350) Bujur Timur) Matahari terbenam pada jam 18:19 wib dan Bulan terbenam pada jam 18:05 wib. (Senja Astronomi berakhir pada jam 19:00 wib). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 12 November 2004 adalah ?3o 06′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 0%.
Pelabuhan Ratu:
Pada tanggal 12 November 2004 di Pelabuhan Ratu ( lintang geografis lintang f= ?7o 07′ atau f = ?7o.12 dan l = bujur geografis 106o 26′ atau 106o.433 bujur timur) Matahari terbenam pada jam 17:51 wib dan Bulan terbenam pada jam 17:37 wib. Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 12 November 2004 adalah ?3o 00′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 0%.
Bagi yang memulai shaum Ramadhan 1425 H pada tanggal 15 Oktober 2004 pada tanggal 12 November 2004 merupakan hari ke 29 pada bulan Ramadhan 1425 H. Tradisi Rukyat (mengamati Hilal) dilakukan pada tanggal 29 Ramadhan untuk memastikan apakah Ramadhan cukup 29 hari atau digenapkan 30 hari. Karena pada tanggal 12 November 2004 pada saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia belum berlangsung fenomena ijtimak (baru berlangsung pada malam hari jam 21:27 wib) dan Bulan terbenam 14 menit lebih dulu sebelum Matahari terbenam, maka secara astronomi mustahil untuk mendapatkan Hilal pada tanggal 12 November 2004, oleh karena itu tanggal 13 November 2004 masih bagian dari bulan Ramadhan 1425 H dan satu Syawal 1425 H akan bertepatan dengan hari Ahad, tanggal 14 November 2004. Shalat Ied 1425 H akan berlangsung pada hari Ahad, tanggal 14 November 2004.
Mekah
Pada hari Jum’at tanggal 12 November 2004 di Mekah (lintang f= +21o 25′ atau +21o.417 dan bujur geografis l= +39o 50′ atau 39o.833 Bujur Timur), Matahari terbenam pada jam 21:39 wib atau 17:39 waktu local dan Bulan terbenam pada jam 21:30 wib atau jam 17:30 waktu lokal. (Senja Astronomi berakhir pada jam 22:59 wib atau jam 18:59 waktu lokal). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal tanggal 12 November 2004 adalah ?1o 39′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 0%.
13 November 2004
Meurauke:
Pada hari Sabtu, tanggal 13 November 2004 di Meurauke (lintang f= ?08o 30′ atau ?08o.500 dan bujur geografis l= +140o 27′ atau 140o.450 Bujur Timur), Matahari terbenam pada jam 15:37 wib dan Bulan terbenam pada jam 16:18 wib. (Senja Astronomi berakhir pada jam 16:54 wib). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 13 November 2004 adalah +9o 13′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 1%.
Sabang:
Pada hari Sabtu, tanggal 13 November 2004, di Sabang Matahari terbenam pada jam 18:19 wib dan Bulan terbenam pada jam 19:00 wib atau 41 menit setelah Matahari terbenam. Tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam adalah +09o 10′, sabit Bulan mencapai 1%, sabit Bulan tersebut telah mencapai ukuran sabit Bulan yang dapat dilihat oleh mata bugil (di kawasan ekuator) sebagai hilal.
Pelabuhan Ratu:
Pada hari Sabtu, tanggal 13 November 2004, di Pelabuhan Ratu matahari terbenam pada jam 17:51 wib dan Bulan terbenam pada jam 18:38 wib atau 47 menit setelah Matahari terbenam. Tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam adalah +10o 26′, sabit Bulan mencapai 1%, sabit Bulan tersebut telah mencapai ukuran sabit Bulan yang dapat dilihat oleh mata bugil (di kawasan ekuator) sebagai hilal.
Bagi yang memulai shaum Ramadhan 1425 H pada tanggal 16 Oktober 2004 pada tanggal 13 November 2004 merupakan hari ke 29 pada bulan Ramadhan 1425 H. Tradisi Rukyat (mengamati Hilal) dilakukan pada tanggal 29 Ramadhan untuk memastikan apakah Ramadhan cukup 29 hari atau digenapkan 30 hari. Pada tanggal 12 November 2004 pada saat Matahari terbenam di seluruh dunia akan dengan mudah dapat menyaksikan hilal, karena luas sabit bulan telah mencapai 1% . Di wilayah Indonesia saat Matahari terbenam dan Bulan terbenam 14 menit lebih dulu sebelum Matahari terbenam, maka secara astronomi mustahil untuk mendapatkan Hilal pada tanggal 12 November 2004, oleh karena itu tanggal 13 November 2004 masih bagian dari bulan Ramadhan 1425 H dan satu Syawal 1425 H akan bertepatan dengan hari Ahad, tanggal 14 November 2004. Shalat Ied 1425 H akan berlangsung pada hari Ahad, tanggal 14 November 2004.
Jadi diharapkan shalat Ied 1425, satu Syawal 1425 H akan diselenggarakan secara serempak oleh umat Islam Indonesia pada hari Ahad 14 November 2004. Shalat tarawih berakhir pada hari Sabtu tanggal 13 November 2004.
Mekah:
Pada hari Sabtu tanggal 13 November 2004 di Mekah (lintang f= +21o 25′ atau +21o.417 dan bujur geografis l= +39o 50′ atau 39o.833 Bujur Timur), Matahari terbenam pada jam 21:39 wib atau 17:39 waktu local dan Bulan terbenam pada jam 21:30 wib atau jam 17:30 waktu lokal. (Senja Astronomi berakhir pada jam 22:59 wib atau jam 18:59 waktu lokal). Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal tanggal 13 November 2004 adalah +8o 21′. Fraksi Luas sabit Bulan (terhadap bundaran Bulan) pada ketinggian tersebut adalah 2%.
Lembang, 12 Oktober 2004
Dr Moedji Raharto
Staf Akademik Observatorium Bosscha- Departemen Astronomi FMIPA ITB
(Anggota BHR Jabar dan BHR Nasional)
Tlp 022 2787635
Recent Comments