Archive

Archive for the ‘IT Stuff’ Category

VACANCY!

October 27th, 2007

Perusahaan tempat saya bekerja membutuhkan tenaga baru yang nantinya akan bekerja satu tim dengan saya

Posisi: Technical Consultant (IT Engineer)
Role: Consutant & Implementor produk (software) berbasis Java di lingkungan enterprise.
kebutuhan: A.S.A.P (begitu diterima bisa langsung ngantor)

Kualifikasi:
- Male/Female (23-29 years old)
- Have a good skill in TCP/IP
- Have a good communication in English
- berpengalaman min. 1 th as Tech. Consultant/system engineer/ system integrator/
Sys-admin IT infrastructure dan sejenisnya.
- Familiar di environment UNIX: AIX/Solaris/HP-UX/Linux, etc..
- familiar membuat shell script
- Familiar dengan java (J2EE)
- Familiar dengan produk DataBase (MSSQL/Oracle/DB2/etc..) dan SQL syntax.

Benefit:
- Tantangan ;)
- Gaji & tunjangan kesehatan
- kesempatan training di luar negri
- Bantuan kepemilikan HP dan Laptop (term & condition apply)

Jika diantara anda atau rekan anda ada yang cocok dengan kualifikasi dan yang berminat, silahkan kirim lamaran dan CV kealamat email saya yang nanti akan saya rekomendasikan ke pihak HRD. (subject: VACANCY max attachment 250kb format MS word atau pdf). lowongan ini terbuka selama satu minggu sejak di posting disini.

IT Stuff

Pengalaman dengan Wimode

October 22nd, 2007

Saat menonton iklannya pertama kali di Televisi beberapa bulan lalu saya berkata dalam hati “Hmm… mungkinkah ini yang saya butuhkan?”.

Alternatif internet mobile saat ini sudah sangat banyak: berbagai provider dengan berbagai teknologi. Namun diantara sekian banyak itu kesemuanya (setidaknya bagi saya) masih belum cocok. pertama, tarif yang relatif masih mahal (baik paket ataupun eceran) untuk saya. kedua, saya berkeberatan untuk berinvestasi membeli perangkat 3G atau gadget baru (HandPhone, blackberry atau modem) kecuali memang kebutuhannya sudah sangat mendesak. Masalahnya internet mobile buat saya hanyalah untuk kondisi darurat. Hanya menarik atau mengirim email di jalan (itu pun kadang-kadang).

Saya coba-coba cari informasi di google, banyak pujian sekaligus kekecewaan dari pemakai Wimode. Kelihatannya bagus tidaknya wimode tergantung lokasi dimana pengguna berada. beruntung ada seorang rekan yang mau menjual wimodenya dan saya boleh mencoba sebelum memutuskan untuk membeli.

Hasilnya? cukup bagus di banyak lokasi kecuali dirumah saya padahal pengakuan salah seorang kawan baik saya, wimode cukup bagus dirumahnya yang berjarak kurang dari 500 meter dari rumah saya.

Setelah beberapa hari coba, akhirnya saya memutuskan beli saja wimode teman saya ini. diskon cuma 50rebu dari harga baru. Kendala ga dapet sinyal dirumah no problem, toh saya memang biasa mengandalkan cbn dial-up kalau sedang ada di rumah.

Dalam sebulan ini saya sudah belasan kali menggunakan wimode, menurut saya wimode cukup bagus namun tidak bagus-bagus banget. Kebetulan wimode memenuhi kebutuhan saya untuk sekedar menarik email ketika saya sedang berada di luar kantor. Namun ketika saya iseng coba-coba download dan surfing, kecepatan transfernya tidak jauh berbeda dengan internet dial-up. Jika anda senang (dan sering) jalan-jalan dan dowload file dari internet, sepertinya wimode masih kurang oke (di bandingkan dengan IM2, fren atau XL misalnya) ditinjau dari sisi harga dan kualitas. Dari beberapa lokasi yang pernah saya coba, hanya dirumah sayalah (daerah kebon bawang, tanjung priuk) yang agak apes tidak dapat sinyal.

Jadi sejauh ini, saya cukup puas dengan wimode ditinjau dengan kebutuhan saya saat ini. Mungkin ketika kebutuhan saya meningkat, mau tidak mau saya pertimbangkan beli HP baru dan migrasi ke teknologi 3G (ngomong-ngomong sudah 4 tahun lebih belum ganti HP nich. masih HP yang lama). Kalau boleh komplain, kekurangan lain dari wimode adalah harga modemnya relatif mahal (paling muhra rp. 599 ribu) rupiah. menurut saya pantasnya harga modem tersebut kisarannya antara150 s.d 250 ribu rupiah,

Ngomong-ngomong tentang Wimode yang saya beli bekas dari teman saya itu, alasan dijual katanya mau beli modem yang lebih canggih. Namun ketahuan di salah satu milis, doi mengaku keciwa dengan wimode. Halah… Jual rugi ya? berikut skrin syut email beliau:

Bagaimana pengalaman anda?

IT Stuff, Personal

Upgrade TSM Client v5.2 on AIX

May 8th, 2007

Bulan ini saya melakukan beberapa upgrade TSM server & Client di beberapa customer. Kebanyakan adalah dari versi 5.2 ke versi 5.3 Memang versi 5.2 ini sudah cukup lama. Pertengahan tahun ini support IBM untuk TSM 5.2 akan dihetikan, alias discontinued.

So, apa susahnya upgrade TSM dari v5.2 ke v5.3? Pada dasarnya tidak sulit. tinggal masukkan cd source lalu lakukan perintah smitty installp dan lakukan step-step sebagaimana install baru. Namun ada sedikit trik, terutama jika anda juga akan mengupgrade TSM API. Berbeda dari v5.2 yang kita hanya bisa memilih salah satu API yaitu 32bit atau 64bit, untuk v5.3 kita harus memilih kedua-duanya (API 32 bit dan 64bit) walaupun processor mesin kita (p-series) adalah processor 64bit. Pelangaman pribadi dan consultant lain jika kita tidak menginstall API 32bit ini, maka akan ada problem jika ada TDP (Tivoli Data Protection) for appliction di mesin tersebut.

Permasalahannya, kita tidak bisa mengupgrade API 64bit dan 32bit sekaligus jika pada installasi sebelumnya (v5.2) API 32bit tidak terinstall (upgrade akan gagal karena tidak ditemukan API 32bit previous install). Solusinya, kita tidak dapat upgrade-replace, melainkan remove dulu TSM API yang ada, lalu lakukan install versi terbaru.

Setelah melakukan upgrade masih ada satu step tambahan. Berbeda dengan versi 5.2, sejak v5.3, TSM mewajibkan file dsmerror.log ditulis oleh user non-root. Jika dimesin anda terinstall TDP, jangan lupa lakukan chown file dsmerror.log ke user aplikasi yang bersangkutan (misalnya terinstall TDP oracle, lakukan chown file dsmerror.log ke user oracle). Atau yang paling mudah (namun agak risky), lakukan perintah chmod 777 file dsmerror.log (note: Untuk mengetahi dimana file dsmerror.log berada, check configurasi pada file /usr/tivoli/tsm/client/bin/dsm.sys atau /etc/environment. Defaultnya berada di direktori /usr/tivoli/tsm/client/api/bin64/

Semoga berhasil!

IT Stuff

RHCE 2007

January 6th, 2007

RHCE"Karena saya pernah posting tentang ujian RHCE (RedHat Certified Engineer), Kadang-kadang pencari informasi yang berkaitan suka nyasar kesini via google.

Sekedar sekilas Breaking news (buat yang belum tahu), Dari informasi yang saya peroleh, PT. BAJAU ESCORINDO yang selama ini menjadi Athorized Training partner dari Redhat per January 2007 sudah habis masa kontraknya. Bajau masih menyelenggarakan Training Enterprise Linux, namun bukan kurikulum RHCE. Sekarang ini Redhat’s Authorized training Partner untuk Indonesia adalah PT. Indolinux Nusantara.

So, buat yang mau training atau mengambil ujian RHCE/RHCT, Now You know where to go.

IT Stuff, Linux

Domain Pribadi

December 15th, 2006

Ngomong masa lalu dikit….
Pertama kali mendengar mahluk bernama “internet” adalah sekitar tahun 1994, namun benar-benar bersentuhan dengan internet baru pada tahun 1996. (Ah, sudah hampir 11 tahun yang lalu). Pada waktu itu saya berpikir dalam hati, kalau punya website… alangkah kerennya. Punya domain? belum kepikiran.

Mungkin karena jodoh dan faktor keberuntungan, sejak itu (sampai sekarang) saya memiliki akses internet yang cukup baik. Minat saya ngoprek komputer (yang tidak sesuai dengan jurusan saya kuliah) memudahkan saya merealisasikan mimpi punya website. Walau demikian pada akhirnya saya harus mengakui, bikin website itu gampang. Ngisinya yang susah.. Oyah, waktu itu belom ada blog, bahkan google pun belum lahir.

Beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan seorang teman via Y!M. “Kamu belom punya domain sendiri ech?” Yang dimaksud adalah domain di internet, khususnya domain TLD .com . Kami mengobrol dengan topik personal domain dan diakhiri dengan kesimpulan “Kelihatannya kamu ga berminat punya domain sendiri ech?” Teman saya mengajukan argumen bahwa prinsip kepemilikan domain adalah “Siapa cepat, dia dapat!”, Selain itu punya domain sendiri setidaknya akan menambah prestise/gengsi. Oleh karena itu penting untuk cepat-cepat merebut nama-nama domain yang strategis, setidaknya domain yang cocok dengan personal kita, sebelum diklaim oleh orang lain.

Saya tidak menyanggah argumen diatas. Namun sebagai orang yang sudah terbiasa bermain-main di internet, justru masalah ini tidak lagi terlalu saya pikirkan. Punya domain adalah hal biasa. Siapapun bisa dan boleh punya nama domain, selama belum di klaim orang. Dari pada punya domain sendiri, lebih gengsi kalau punya subdomain dari institusi keren (katakanlah nasa.gov, mit.edu). Lagi pula, punya domain sendiri kesannya narsis banget. (hohoh… Punya blog seperti ini aja sudah membuktikan bahwa saya memang narsis ;) .

Tapi mungkin ada benarnya juga. Ga punya domain berarti ga gaul (eh sapa tuh yang ngomong?). Nah, begitu dapat info bahwa kita bisa mendaftar domain web.id secara gratis, saya juga mencobanya dan…. voila! http://ech.web.id . Proses pendaftaran mudah dan cepat lhoo… (disetujui kurang dari 2 hari). Untung domain ini belum ada yang klaim.

Bukannya lebih keren kalau belakangnya .com? Saya pribadi ga sepenuhnya setuju. TLD .com memang paling populer dikalangan awam (Kalau belakangnya .com udah pastilah itu situs internet, ga mungkin situs purbakala) namun domain .com menurut saya sudah jenuh, lekat dengan paradigma lama dan yang paling menyebalkan adalah: dihantui oleh para spekulan Domain.

IT Stuff

Clusty: Clustering Search Engine

October 31st, 2006

Kalau anda seorang peselancar web pasti sering menggunakan jasa mesin pencari web. Google adalah penyedia layanan pencarian web paling terkenal. Selain google? ada yahoo, msn dan banyak lagi.

Tapi, ngomong-ngomong apakah anda pernah dengar clusty? Honestly saya baru tahu hari ini. Sama seperti mesin pencari lain, clusty juga adalah penyedia jasa pencarian web. Berbeda dengan yang lainnya, clusty bekerja dengan mengquery beberapa mesin pencari lain kemudian mengkatagorikan hasilnya berdasarkan topik. Hasil pencarian menjadi lebih baik, karena berdasarkan topik yang diberikan kita dapat menentukan hasil mana yang paling relevan dengan pencarian kita. berikut kutipan dari halaman about:

Clusty unique is what happens after you search. Instead of delivering millions of search results in one long list, our search engine groups similar results together into clusters. Clusters help you see your search results by topic so you can hone in on exactly what you’re looking for or discover unexpected relationships between items. When was the last time you went to the third or fourth page of the search results? Rather than scrolling through page after page, the clusters help you find results you may have missed or that were buried deep in the ranked list.

Saya sudah mencoba clusty, dan hasilnya cukup memuaskan. Lebih baik dari google! Bagaimana dengan anda?

IT Stuff

Manajemen HDD External

September 16th, 2006

Projek yang saya kerjakan akhir-akhir ini memaksa saya membeli hardisk external untuk menunjang pekerjaan. Hardisk Laptop saya yang 40GB rasanya kurang cukup. Dengan diinstall tiga buah OS dengan masing-masing dijatah 8GB, plus partisi untuk backup ghost image sebesar 4GB hanya menyisakan sekitar 11 GB untuk data. Ini tidak cukup karena source program yang kudu saya tenteng bisa lebih dari 20 GB. Belum termasuk mydocument, arsip email, e-book dan privat stuff lainnya. Kalau source program saya copykan ke CD, tidak cukup (kalau cukup juga jadi ribet karena butuh banyak CD). Di simpan ke DVD tidak strategis karena tidak semua PC ada DVD drive.

Akhirnya saya beli HDD USB external 80 GB. Kapasitas 80GB adalah pilihan yang paling ekonomis saat ini. kapasitas 40GB harganya cuma beda sedikit, tapi yang 120GB harganya masih kemahalan. HDD external sebenarnya adalah gabungan dua buah device yaitu HDD notebook (2.5″) dan USB enclosure. Jika kita membeli versi HDD biasa (3.5″) dengan harga yang sama kita bida mendapatkan kapasitas 250GB. Wow.. lebih dari tiga kali lipat kapasitas HDD 2.5″, hanya saja masalahnya selain lebih berat, HDD 3.5″ membutuhkan power external. Hal ini menyebabkan HDD external 3.5″ tidak praktis hingga saya memilih HDD 2.5″.

Kepada pokok masalah, bagaimana saya memanage HDD dengan kapasitas sebesar ini? 80 GB akan saya alokasikan semuanya untuk Data (bukan untuk OS). Sebagian orang (terutama kolektor film dan pekerja dibidang engineering atau multimedia) mungkin menganggap kapasitas sebesar ini biasa-biasa saja atau kecil. Namun buat saya kapasitas 80GB cukup lumayan.

Kebetulan data-data yang saya miliki beraneka ragam, dari dokumen MS Office, foto, mp3, source program dan lain-lain. Untuk itu saya mengkategorikan file-file yang saya miliki sebagai berikut:
- Kategori 1: File-file dokumen (office, pdf, html)
- Kategori 2: File-file koleksi lagu dan film
- kategori 3: file-file yang “numpang lewat” dalam arti hanya sementara saja disimpan di hardisk. Biasanya adalah source Program dan temporary backup.

Perhatikan bahwa masing-masing kategori memiliki sifat-sifat yang spesifik:
- Kategori 1: relatif berukuran kecil dan sering di modifikasi.
- Kategori 2: relatif berukuran besar dan statik (relatif jarang di modifikasi).
- Kategori 3: Ukuran tidak spesifik, namun cenderung sangat dinamis.

Sifat-sifat file ini menjadi penting untuk diperhatikan karena:
- Aktifitas dinamik akan menyebabkan hardisk menjadi cepat terfragmentasi.
- Untuk File system FAT32, Ukuran partisi menentukan ukuran cluster dari partisi bersangkutan. Makin besar partisi, makin besar ukuran cluster dan makin cepat proses copy/paste file. Namun makin besar ukuran cluster, makin tidak efesien alokasi ruang Hardisk untuk file-file yang berukuran kecil
- Hardisk lebih cepat membaca file yang terdapat pada sektor di bagian awal daripada sektor di bagian belakang

Note: Era WindowsXP seperti sekarang ini, bukan jamannya masih menggunakan FAT32, namun orang untuk orang yang multi-OS seperti saya, masih menggunakan Fat32 demi kompabilitas.

Oleh karena itu strategi saya adalah adalah:
- Pisahkan antara file-file statik dan dinamik untuk menghidari fragmentasi.
- Partisi yang berisi file-file yang sering diakses sebaiknya menjadi partisi pertama untuk demi efektifitas kecepatan baca/tulis hardisk.
- Jika menggunakan FAT32, pisahkan antara file besar dan kecil untuk efesiensi ukuran cluster. Gunakan Partisi kecil (2-8GB) untuk file-file kecil.

Jangan lupa, Jika anda menggunakan NTFS, usahakan terdapat freespace paling sedikit 15% dari kapasitas pada masing-masing partisi. Ini adalah kebutuhan minimal agar partisi anda bisa didefrag.

Yang saya lakukan adalah membagi masing-masing kategori diatas kedalam partisi yang terpisah. kategori 1 saya taruh sebagai partisi pertama dengan ukuran 6GB (FAT32). kategori 2 dan 3 masing-masing 30GB (FAT32) dan 42GB (NTFS). Pertimbangan ukuran partisi dan pilihan File system adalah semata-mata karena disesuaikan dengan kebutuhan.

manajemen seperti ini belum tentu cocok untuk semua orang. Pemartisian Hardisk (lebih dari satu pertisi) sesungguhnya memperlambat Kinerja Hardisk. Jika anda memiliki Koleksi Film atau MP3 begitu banyak, atau anda bekerja dibidang Multimedia, ada baiknya menggunakan menggunakan Hardisk dengan single partisi saja untuk menyimpan data anda.

Semoga bermanfaat.

IT Stuff

Kiriman Ubuntu Tiba

August 23rd, 2006

UbuntuKiriman CD ubuntu “dapper” (v6.06) pesanan saya sudah tiba. Buat yang lain mungkin sudah basi banget yaa (sudah lewat 2 bulan lalu). Saya sendiri sudah download imagenya sejak pertama kali rilis awal Juni lalu, namun sebagai tradisi saya pesan juga CDnya sebanyak 10 buah pada tanggal 7 Juli Lalu dan di kirim dari sana tanggal 12 Juli 2006 (berarti hampir 6 minggu lamanya). Kiriman yang saya terima ini adalah yang ketiga. pertama adalah versi 4.10, kemudian versi 5.04.

Berbeda dari versi sebelumnya yang setiap CD-set terdiri atas 2 CD: Install CD dan Live CD, kali ini setiap CD-set berisi hanya satu CD saja. Untuk installasi maupun Live CD, bisa menggunakan CD yang sama.

Oprek-oprek ubuntu Linux saat ini pending dulu karena kesibukan kantor. Tapi kalau ada yang mau juga CD Linuxnya, silahkan minta ke saya. Ambil sendiri yaa?

IT Stuff, Linux